imambenjol.blogspot.com/
Ditengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan kemerdekaan RI sudah 64 th, jumlah rakyat miskin masih sangat besar. Kemiskinan masih saja menjadi masalah besar bangsa kita. Berbagai faktor yang saling berkaitan menandai Kemiskinan yang merupakan masalah kompleks. Menurut BPS 2 Juli 2007, jumlah penduduk per Maret 2007 yang berada di bawah garis kemiskinan dengan standar GK Rp.166.697,- ada 37,17 juta penduduk. Sekarang tahun 2008, walau ada penurunan masih terdapat 35, 3 jt juta penduduk miskin (Juni, setelah kenaikan BBM). Kemiskinan senatiasa terkait dengan berbagai faktor seperti: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, dan kondisi lingkungan, dst. Dimana diantaranya faktor yang berkorelasi tinggi dengan kemiskinan adalah pendapatan dan kesempatan kerja. Selaian dipengaruhi pula oleh faktor mahalnya harga kebutuhan hidup dan rendahnya harga jual produksi rakyat. Sehingga, sudah kebayang pula didepan mata dampak dari krisis ekonomi global, yang diperkirakan sebagian besar industri nasional tidak dapat menghindari pemutusan hubungan kerja. Bahkan diperkirakan akan lebih banyak lagi pada satu atau dua bulan kedepan.

Dari pada itu, kebijakan pemerintahan sekarang nampaknya melaksanakan pembangunan ekonomi dengan mengutumakan pertumbuhan. Hasilnya memang menunjukan adanya peningkatan Pendapatan Domistik Bruto (PDB), baik perkapita maupun nasional. Secara teoritik, hal ini di percayai dapat menambah kesempatan kerja sehingga menurunkan angka kemiskinan. Ternyata hasil menunjukkan lain. PDB meningkat, tapi kemiskinan juga meningkat. Memang para pakar juga memberikan pendapat beragam (Subagio, dkk, 2001). Salah satu, penelitian Deininger dan Squire (1995, 1996) menyimpulkan bahwa ada korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan peningkatan angka kemiskinan. Namun studi yang dilakukan World Bank (1990), Fields dan Jakobson (1989) dan Ravallion (1995), menunjukkan tak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan.

Berdasarkan Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005/RPJM, pemerintah sekarang menargetkan penurunan persentase penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan menjadi 8,2 persen atau setara 18,8 juta penduduk miskin pada tahun 2009. Sekarang masih terdapat 35, 3 jt juta penduduk miskin (Juni, setelah kenaikan BBM). Pertanyaannya aalah apakah masih mungkin pemerintah dapat menurunkan 16, 6 jt penduduk miskin dalam sisa waktu satu tahun.

Kajian Tim Indonesia Bangkit, mengungkapkan bahwa dana yang dikucurkan untuk program kemiskinan, dinilai tidak menyentuh langsung ke permasalahan kemiskinan. Anggaran kemiskinan sebesar Rp 54 triliun di 2007 dan Rp 62 triliun di 2008, menurut Imam Sugema, dari nilai Rp 54 triliun itu yang langsung bersentuhan dengan kemiskinan hanya Rp 5 triliun
Demikian pula untuk kesempatan kerja Data BPS menunjukkan, jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 108,13 juta orang atau bertambah 174 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2006 yang tercatat 106,39 juta. Untuk mengatasi pengguran dalam penciptaan kerja target pemerintah menurunkan persentase penangguran menjadi 5,1 % (sekitar 5,1 juta). Sekarang masih terdapat 9,427 jt (Februari, sebelum kenaikan BBM) dan Setelah kenaikan BBM: 9,750 jt pengangguran. Hampir tidak mungkin untuk menurunkan 4,6 jt dalam sisa waktu satu tahun 2009.

Sumber: Dr. Sutradara Gintings, pd materi Internal PartaiPDI Perjuangan dan berbagai sumber
Meyadarai akan krisisi ekonomi global sekarang, tengah masuk kedalam perekonomian kita yang demikian rentan, sebagai akibat ekonomi nasional demikian terbuka dan liberal. Industi kita akan terpukul dan pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akan turun. Sehingga wajah buruk kemiskinan semakin menghantui masyarakat kita. Nampaknya apa yang menjadi rekomendasi dari hasil seminar dengan tema ”Tantangan penanggulangan kemiskinan dalam era otonomi daerah” di Depkeu tanggal 2 Juli 2002 ”pada Era Pemernitahan Megawati Soekarnoputri”, belum sungguh-sungguh didisaian dan dievaluasi dalam pola perencanaan pembangunan nasional. Adapun rekomendasi yang pantas kita angkat kembali meliputi:
Pertama, upaya penanggulangan kemiskinan harus bersifat desentralistik, bottom-up dan juga lokal-spesifik. Artinya penanggulangan kemiskinan harus dilaksanakan pemerintah - masyarakat lokal sesuai kondisi setempat dengan mengupayakan perluasan kesempatan kerja dan pemberdayaan ekonomi rakyat di tingkat akar rumput secara berkelanjutan dan komprehensif. Alasannya yaitu karena merekalah yang lebih tahu potret kemiskinan di daerahnya dan ini menjadi PR mereka.
Kedua, upaya penanggulangan kemiskinan dalam era otonomi daerah juga harus diikuti dengan perbaikan akses penduduk miskin terhadap faktor produksi. Untuk itu perlu ada: (1) kebijakan land-reform melalui perda; (2) demokratisasi ekonomi rakyat dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yaitu sistem ekonomi yang lebih memihak pada sektor ekonomi rakyat melalui upaya pemberdayaan ekonomi penduduk miskin; (3) lembaga keuangan mikro untuk membiayai semua jenis usaha ekonomi rakyat; (4) partisipasi yang lebih proporsional kaum wanita (jika perlu dengan sistem kuota) dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pemantauan ragam kegiatan penanggulangan kemiskinan.
Untuk itulah masalah kemiskinan haruslah menjadi perhatian semua pihak, khususnya memasuki Pemilu 2009 Partai dan Para Politisi, melihat permasalahan haruslah secara objektif untuk mengatasi masalah kemiskinan. Kebijakan dan program mengatasi kemiskinan memang bukan pekerjaan yang mudah, dan dapat diatasi secara parsial dan bersifat seketika. Apalagi bila pendekatan dan sasaran pembangunan Public Policy yang dipilih ternyata tidak efektif dan keliru.
(Bahan bacaan, S. Handayani dan F. Nurdiana, artikel Kompas, dan berbagai sumber)